SPECIES MONOKOTIL DAN DIKOTIL - Make You Smarter Blog

Posted by Education World on Wednesday, 18 April 2012


Make You Smarter Blog - TUMBUHAN MONOKOTIL
  • Mencakup semua tumbuhan berbunga yang memiliki kotiledon tunggal (berkeping biji tunggal), batang bagian atas tidak bercabang.
  • Umumnya berdaun tunggal, kecuali pada golongan palma (kelapa, palem) dengan tulang daun melengkung atau sejajar.
  • Jaringan xilem dan floem pada batang dan akar tersusun tersebar dan tidak berkambium.
  • Bunga memiliki bagian-bagian dengan kelipatan 3, bentuk tidak beraturan dan berwarna tidak menyolok.
Beberapa contoh yang penting misalnya;
  • Famili Liliaceae. Contohnya adalah Lilium longiflorum (lilia gereja), Gloriosa superba (kembang sungsang).
  • Famili Amaryllidaceae. Contohnya adalah Agave cantala (kantala), Agave sisalana (sisal).
  • Famili Poaceae. Contohnya adalah Oryza sativa (padi), Zea mays (jagung),Andropogon sorghum (cantel), Panicum miliaceum (jewawut).
  • Famili Zingiberaceae. Contohnya adalah Zingiber officinalle (jahe), Curcuma domestica (kunyit), Alphinia galanga (laos), Kaempferia galanga (kencur).
  • Famili Musaceae. Contohnya adalahMusa paradisica (pisang), Musa textilis(manila henep).
  • Famili Orchidaceae. Contohnya adalah Phalaenopsis amabilis (anggrek bulan),Dendrobium phalaenopsis (larat).
  • Famili Arecaceae. Contohnya adalah Cocos nucifera (kelapa), Arenga pinata (aren), Areca catechu (pinang), Elais quineensis (kelapa sawit).
  • Famili Areceae. Contohnya adalah Colocasia esculenta (talas),Xanthosoma violaceum (bentul), Alocasia macrorhiza (sente).
DIKOTIL
  • Mencakup semua tumbuhan berbunga yang memiliki 2 kotiledon (berkeping biji dua).
  • Daun dengan pertulangan menjari atau menyirip
  • Batangnya berkambium, oleh karena itu mengalami pertumbuhan sekunder.
  • Pembuluh xilem dan floem tersusun melingkar (konsentris).
  •  Akar berupa akar tunggang ujung akar lembaga tidak dilindungi selaput pelindung.
  • Jumlah bagian-bagian bunga berkelipatan 4 atau 5.
Beberapa contoh yang penting antara lain:
  • Euphorbiaceae (tumbuhan jarak-jarakan), contohnya Euphorbia tirucalli (patah tulang), Manihot utilisima (ubi kayu), Hevea brassiliensis (karet, para).
  • Moraceae. Contohnya adalah Ficus benjamina (beringin), Artocarpus communis (keluwih).
  • Papilionaceae. Contohnya adalah Vigna cinesis (kacang panjang), Phaseolus radiatus (kacang hijau), Arachis hypogea (kacang tanah), Clitoria ternatea (kembang telang)
  • .Caesalpiniaceae. Contohnya adalah Caesalpinia pulcherima (kembang merak), Tamarindus indica (asam).
  • Mimosaceae. Contohnya adalah Mimosa pudica (sikejut), Leucaena glauca (lamtoro), dan Parkia speciosa (petai).
  • Malvaceae. Contohnya adalah Gossypium sp. (kapas), Hibiscus tiliaceus (waru).
  • Bombacaceae. Contohnya adalah Durio zibethinus (durian), Ceiba pentandra (kapok).
  • Rutaceae. Contohnya adalah Citrus nobilis (jeruk keprok), Citrus aurantifolia (jeruk nipis).
  • Myrtaceae. Contohnya adalah Eugenia aromatica (cengkeh), Melaleuca leucodendron (kayu putih), dan Psidium guajava (jambu biji).
  • Verbenaceae. Contohnya adalah Tectona grandis (jati), Lantana camara (lantana).
  • Labiatae. Contohnya adalah Coleus tuberotus (kentang hitam).
  • Convolvulaceae. Contohnya adalah Ipomoea batatas (ketela rambat), Ipomoea reptans (kangkung).
  • Apocynaceae. Contohnya adalah Plumeria acuminata (kemboja), Alamanda cathartica (alamanda).
  • Rubiaceae. Contohnya adalah Cinchona suecirubra (kina), Coffea arabica (kopi arabica), Coffea canephora (kopi robusta), Morinda citrifolia (mengkudu).
 BEDA MONNOCOTYLEDONEAE DENGAN DICOTYLEDONEAE
    1. Bentuk akar                                                                                                                                       Monokotil : Memiliki sistem akar serabut                                                                                       Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang 
    2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun                                                                                                Monokotil : Melengkung atau sejajar                                                                                              Dikotil : Menyirip atau menjari
    3. Kaliptrogen / tudung akar                                                                                                                  Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra                                                                                           Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar
    4. Jumlah keping biji atau kotiledon                                                                                                       Monokotil : satu buah keping biji saja                                                                                              Dikotil : Ada dua buah keping biji
    5. Kandungan akar dan batang                                                                                                             Monokotil : Tidak terdapat kambium                                                                                              Dikotil : Ada kambium
    6.  Jumlah kelopak bunga                                                                                                                       Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga                                                                                     Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima
    7. Pelindung akar dan batang lembaga                                                                                                    Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga / keleorhiza                            Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil
    8. Pertumbuhan akar dan batang                                                                                                           Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar                                                       Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    9. Contoh     
    • Tumbuhan monokotil : Famili Liliaceae, Famili Amaryllidaceae, Famili Poaceae, Famili Zingibera ceae. Famili Musaceae , Famili Orchidaceae , Famili Arecaceae , Famili Areceae         
    • Tumbuhan dikotil : Euphorbiaceae , Moraceae , Papilionaceae , Caesalpiniaceae , Mimosaceae , Malvaceae , Bombacaceae , Rutaceae , Myrtaceae , Verbenaceae ,Labiatae , Convolvulaceae , Apocynaceae , Rubiaceae.                                                                                                                        
    CONTOH WERKSTUK

    Waru (Hibiscus tiliaceus L.) 


    Waru (Hibiscus tiliaceus L.)
    Sinonim : --
    Familia : malvaceae.

    Uraian :
    • Tumbuhan tropis berbatang sedang, terutama tumbuh di pantai yang tidak berawa atau di dekat pesisir. 
    • Waru tumbuh liar di hutan dan di ladang, kadang-kadang ditanam di pekarangan atau di tepi jalan sebagai pohon pelindung. 
    • Pada tanah yang subur, batangnya lurus, tetapi pada tanah yang tidak subur batangnya tumbuh membengkok, percabangan dan daun-daunnya lebih lebar. Pohon, tinggi 5-15 m. 
    • Batang berkayu, bulat, bercabang, warnanya cokelat. 
    • Daun bertangkai, tunggal, berbentuk jantung atau bundar telur, diameter sekitar 19 cm. 
    • Pertulangan menjari, warnanya hijau, bagian bawah berambut abu-abu rapat. 
    • Bunga berdiri sendiri atau 2-5 dalam tandan, bertaju 8-11 buah, berwarna kuning dengan noda ungu pada pangkal bagian dalam, berubah menjadi kuning merah, dan akhirnya menjadi kemerah-merahan. 
    • Buah bulat telur, berambut lebat, beruang lima, panjang sekitar 3 cm, berwarna cokelat. Biji kecil, berwarna cokelat muda. 
    • Daun mudanya bisa dimakan sebagai sayuran. Kulit kayu berserat, biasa digunakan untuk membuat tali. Waru dapat diperbanyak dengan biji.
    Nama Lokal :
    • Sumatera: kioko, siron, baru, buluh, bou, tobe, baru, beruk, melanding. 
    • Jawa: waru, waru laut, waru lot, waru lenga, waru lengis, waru lisah, waru rangkang, wande, baru. 
    • Nusa Tenggara: baru, waru, wau, kabaru, bau, fau. 
    • Sulawesi: balebirang, bahu, molowahu, lamogu, molowagu, baru, waru. 
    • Maluku: war, papatale, haru, palu, faru, haaro, fanu, halu, balo, kalo, pa. 
    • Irian jaya: kasyanaf, iwal, wakati. 
    • NAMA ASING Tree hibiscus. 
    • NAMA SIMPLISIA Hibisci tiliaceus Folium (daun waru), Hibisci tiliaceus Flos (bunga waru).
    Penyakit Yang Dapat Diobati :
    • Daun berkhasiat antiradang, antitoksik, peluruh dahak, dan peluruh kencing. 
    • Akar berkhasiat sebagai penurun panas dan peluruh haid.
    Komposisi :
    • Daun mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol, sedangkan akarnya mengandung saponin, flavonoida, dan tanin.
    Pemanfaatan :
    BAGIAN YANG DIGUNAKAN
    • Bagian yang digunakan adalah daun, akar, dan bunga.
    INDIKASI
    • Daun waru digunakan untuk pengobatan : TB paru-paru, batuk, sesak napas, Radang amandel (tonsilitis), Demam, Berak darah dan lendir pada anak, muntah darah, Radang usus, Bisul, abses, Keracunan singkong, Penyubur rambut, rambut rontok.
    • Akar digunakan untuk mengatasi : terlambat haid, demam.
    • Bunga digunakan untuk pengobatan : radang mata.
    CARA PEMAKAIAN
    • Untuk obat yang diminum, gunakan daun segar sebanyak 50-100 g atau 15-30 g bunga. 
    • Rebus dan air rebusannya diminum.
    • Untuk pemakaian luar, giling daun waru segar secukupnya sampai halus. 
    • Turapkan ramuan ini pada kelainan kulit, seperti bisul atau gosokkan pada kulit kepala untuk mencegah kerontokan rambut dan sebagai penyubur rambut.
    CONTOH PEMAKAIAN:
    TB Paru
    1. Potong-potong 1 genggam daun waru segar, lalu cuci seperlunya. Tambahkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa sekitar 3/4-nya. Setelah dingin, saring dan tambahkan air gula ke dalam air saringannya, lalu minum, sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas minum.
    2. Sediakan daun waru, pegagan (Centella asiatica L.), dan daun legundi (Vitex trifolia L.) (masing-masing 1/2 genggam), 1/2 jari bidara upas (Merremia mammosa Lour.), 1 jari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.), dan 3 jari gula enau. Cuci semua bahan-bahan tersebut, lalu potong-potong seperlunya. Masukkan ke dalam periuk tanah atau panci email. Masukkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa 3/4nya. 
    3. Setelah dingin, saring dan air saringannya siap untuk diminum, sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas.
    Batuk
    • Cuci 10 lembar daun waru segar, lalu potong-potong seperlunya. 
    • Tambahkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa 3/4 bagian. 
    • Setelah dingin saring dan air saringannya diminum, sehari 3 kali, masing-masing 1/3 bagian. 
    • Sebelum diminum, tambahkan madu secukupnya.
    Radang amandel
    • Cuci 1 genggam daun waru segar, lalu rebus dalam 2 gelas air bersih sampai air rebusannya tersisa 1 1/2 gelas. 
    • Setelah dingin, saring dan air saringannya digunakan untuk berkumur (gargle), terus diminum, sehari 3-4 kali, setiap kali cukup seteguk.
    Radang usus
    • Makan daun waru muda yang masih kuncup sebagai lalap.
    Berak darah dan lendir pada anak
    • Cuci 7 lembar daun waru muda (yang masih kuncup) sampai bersih. 
    • Tambahkan 1/2 cangkir air sambil diremas-remas sampai airnya mengental seperti selai. 
    • Tambahkan gula aren sebesar kacang tanah sambil diaduk sampai larut. 
    • Peras dan saring menggunakan sepotong kain halus. Minum air saringan sekaligus.
    Muntah darah
    • Cuci 10 lembar daun waru segar sampai bersih, lalu giling halus. 
    • Tambahkan 1 cangkir air minum sambil diremas-remas. 
    • Selanjutnya, saring dan tambahkan air gula secukupnya ke dalam air saringannya, lalu minum sekaligus.
    Penyubur rambut
    • Cuci 15 lembar daun waru muda, lalu remas-remas dalam 1 gelas air bersih sampai airnya seperti selai. 
    • Selanjutnya, peras dan saring menggunakan sepotong kain. 
    • Embunkan cairan yang terkumpul selama semalam. 
    • Keesokan paginya, gunakan cairan tersebut untuk membasahi rambut dan kulit kepala. 
    • Alhasil, kepala menjadi sejuk dan rambut akan tumbuh lebih subur.

    { 0 comments... read them below or add one }

    Post a Comment