ANALIS TINGKAH LAKU TOKOH DALAM NOVEL KEMERDEKAAN DIMULAI DARI LIDAH KARYA A.D.DONGGO DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI BEHAVIORAL (bab 2) - Make You Smarter Blog

Posted by Education World on Minggu, 05 Agustus 2012


BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1. NOVEL
2.3.1   Pengertian Novel
Kata novel berasal dari kata Latin novellas yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti “baru“. Dikatakan baru karena apabila dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka jenis novel ini muncul kemudian (Guntur Tarigan, 1984:164).
Dalam “ The American College Dictonary” dapat kita jumpai keterangan bahwa novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak, serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut (Guntur Tarigan, 1984:164).
Adapun novel dalam arti luas adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran luas itu berarti dengan plot (alur) yang kompleks, karakter atau suasana cerita yang beragam, setting yang beragam pula (Jacob Sumardjo dan Zaini K. M, 1986:29).
Menurut  Suhendra Yusuf (1995:199) novel adalah karya sastra biasanya bersifat dengan penokohan, pelibatan peristiwa, dan latar cerita yang kompleks. Istlah lain novel adalah roman.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang tergolong ke dalam prosa fiksi serta terdiri dari unsur-unsur pembangunan yang paling berkaitan antar satu dengan ynag lain sehingga membentuk suatu wacana yang utuh.
2.1.2. Unsur-Unsur Pembangun Novel
Menurut Semi (1988:35) unsur-unsur pembangun novel (cerita fiksi) dibagi atas dua bagian yaitu: (1) struktur luar (unsur ekstrinsik) dan (2) struktur dalam (unsur instrinsik). Struktur luar (unsur ekstrinsik) adalah segala macam unsur yang ada di luar suatu karya sastra ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut, misalnya : faktor ekonomi, faktor budaya, faktor sosial, faktor politik, faktor keagamaan, dan faktor tata nilai yang dianut masyarakat. Struktur dalam (unsur intrinsik) adalah unsur-unsur yang membentuk karya sasta tersebut, seperti : penokohan (perwatakan), tema, alur (plot), pusat pengisahan, latar dan gaya bahasa.
Struktur  luar dan struktur dalam hal ini merupakan unsur bagian yang secara fungsional berhubungan dengan yang lainnya, bila kedua unsur itu tidak berhubungan maka tidak dapat dinamakan struktur dan tentu saja struktur itu sendiri harus dilihat dari satu titik pandangan tertentu. Struktur ekstrinsik dianggap sebagai bagian dari struktur yang membangun sebuah cerita fiksi, bila ia kita aggap memberi pengaruh terhadap keseluruhan struktur fiksi itu, terutama bila fiksi atau karangan sastra itu dianggap sebagai mimesis atau pencerminan kehidupan dan interpretasi tentang kehidupan. Segi ekstrinsik itu hanya dapat dibahas bila sedang dikaitkan dengan sesuatu karya sastra tertentu, misalnya novel Dibawah Lindungan Ka’bah. Dengan karya tersebut kita mungkin bisa melihat segi-segi kemasyarakatan atau sosial Kultural Minangkabau dan sikap, filsafat hidup yang dianut pengarangnya (HAMKA). Atas dasar itu pada uraian berikut yang dibicarakan hanyalah struktur dalam atau segi intrinsik yaitu : penokohan (perwatakan), tema, alur (plot), latar / setting, dan gaya bahasa. Struktur intrinsik tersebut adalah sebagai berikut :
2.1.2.1    Penokohan (Perwatakan)
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, lalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mempu menjalin hubungan suatu cerita disebut tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut penokohan (Aminuddin, 1978:79).
Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu  yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan (karakterisasi) dapat diperoleh dengan memberi gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan kebiasaan, dan sebagainya (Semi, 1988:37). Cara mengucapkan sebuah karakter dapat dilakukan melalui pernyataan langsung, melalui peristiwa, melalui percakapan, melalui monolog batin, melalui tanggapan atas pernyataan atau perbuatan dan tokoh-tokoh lain dan melalui kebiasaan atau sindiran.
Perwatakan dalam sebuah novel dapat dipandang dari pembaruan minat, keinginan, emosi, dan moral dan membentuk individu yang bermain dalam suatu cerita (Robert Stanto dalam Semi, 1988:39)
Pada umumnya fiksi mempunyai tokoh utama (a central character) yaitu orang yang ambil bagian dalam sebagian besar peristiwa dalam cerita, biasanya peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadinya perubahan sikap terhadap diri tokoh atau perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap tokoh tersebut, misalnya ; menjadi benci, senang atau simpati (Semi, 1988:39)
2.1.2.2    Tema
Tema dalam cerita fiksi adalah ide yang medasari suatu cerita berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan, sementara pembaca baru dapat memahami tema bila mereka telah selesai memahami unsur-unsur signifikan  yang menjadi media pemapar tema tersebut (Aminuddin,1987:91)
Tema tidak sama dengan topik, topik mempunyai art tempat, dalam tulisan atau karangan, topik berarti pokok pembicaraan. Sedangkan tema merupakan tulisan atau karya fiksi karena wujud tema dalam sastra, berpangkal kepada alasan tindak (kreatif tokoh) (Semi, 1988:42). Jadi tema tidak lain dari suatu gagasan sentral yang menjadi dasar tersebut.
2.1.2.3    Alur (Plot)
Alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interrelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian keseluruhan bagian fiksi (Semi, 1988:43), maka alur itu merupakan perpaduan unsur-unsur  yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita (Aminuddin, 1987:83). Alur atau plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.
Alur merupakan kerangka dasar yang amat penting. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana satu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa yang lain, bagaimana tokoh yang digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu yang semuanya terikat dalam suatu kesatuan waktu.
2.1.2.4    Latar (Setting)
Latar (setting) adalah lingkungan tempat terjadi (Semi, 1988:46) yang termasuk dalam latar ini adalah tempat, waktu, hari, tahun. Musim, atau peristiwa sejarah. Biasanya latar muncul pada semua bagian atau penggalan cerita dan kebanyakan pembaca tidak terlalu menghiraukan latar ini, karena lebih berpusat pada jalan ceritanya. Kadang-kadang kita menemukan bahwa latar ini banyak mempengaruhi penokohan dan kadang-kadang membentuk tema.
Loe Hamalian dan Frederick R Karel (dalam Aminuddin, 1987:68) menjelaskan bahwa setting dalam karya fiksi bukan hanya berupa tempat, waktu, peristiwa, suasana serta benda-benda dalam lingkungan tertentu melainkan juga berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup suatu masyarakat dalam menanggapi problema tertentu. Setting dalam bentuk yang terakhir dapat dimasukkan dalam setting yang bersifat psikologis.
2.1.2.5    Gaya Bahasa
Gaya bahasa menurut Semi (1988:48) bahasa yang digunakan dalam kayra sastra berbeda dengan bahasa yang digunakan komunikasi sosial sehari-hari. Attar Semi menegaskan “Bahasa sastra berbeda dengan bahasa pidato, surat kabar, atau buku pelajaran” karena bahasa sastra tergolong dalam jenis kreatif imajinatif, sedangkan yang lain tergolong informatif dan persuasif. Sementara itu Aminuddin (1987:72) mendefinisikan cara seseorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh intelektual dan emosi pembacanya.
2.2    PSIKOLOGI BEHAVIOR
Psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hubungan-hubungan antar manusia (Wasty Soemanto, 1988:15) karena hubungan-hubungan antar manusia juga terwujud dalam bentuk tingkah laku.
Sedangkan menurut aliran behaviorisme (dalam H.M. Arifin, 1976:21) psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari atau menyelidiki tingkah laku manusia binatang sebagaimana yang nampak secara lahiriyah, karena hal tersebut menggambarkan keadaan batinnya.
Aliran behaviorisme timbul pada abad 20 dipelopori oleh Mc Dougall. Aliran tersebut tidak mau menyelidiki kesadaran dan peristiwa-peristiwa psikis, karena hal ini abstrak, tidak bisa dilihat sehingga tidak dapat diperiksa dan dipercayai (Abu Ahmadi, 2004:7). Oleh sebab tu ahli-ahli paham ini memegang teguh prinsip-prinsip:
-         Objek psikologi adalah behavior yaitu gerak lahir yang nyata atau reaksi-reaksi manusia terhadap perangsang-perangsang tertentu.
-         Unsur behavior telah refleks yaitu reaksi tak sadar atas peransang dari luar tubuh.
Psikologi behavior berpijak pada anggapan bahwa tingkah laku manusia adalah hasil bentukan dari lingkungan tempat ia berada atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya, tidak seperti anggapan psikologi kognitif yang menganggap sebaliknya, yakni tingkah laku dibentuk oleh faktor pembawaan manusia yang dibawa sejak lahir, seperti perasaan, insting, kecerdasan, bakat dan lain-lain. Dengan anggapan ini manusia dianggap sebagai produk lingkungan sehingga manusia menjadi jahat, beriman, penurut, berpandangan kolot, ekstrim, adalah dari bentukan lingkungan (Roekhan dalam Aminuddin, 1990:94).
Berdasarkan anggapan diatas, tingkah laku manusia sebagai respon yang muncul kalau ada stimulus tertentu yang berupa lingkungan, sehingga tingkah laku manusia dipandang dalam bentuk hubungan stimulus dan respon, karena stimulus tertentu akan memunculkan tingkah laku tertentu pula pada manusia.

DOWNLOAD SKRIPSI LENGKAP

{ 0 comments... read them below or add one }

Poskan Komentar