Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama Lit Karya Viddy AD Daery (BAB2) - Make You Smarter Blog

Posted by Education World on Sunday, 5 August 2012



2.1   Karya Sastra dalam Kehidupan Manusia
Karya sastra merupakan hasil perpaduan harmonis antara kerja, perasaan dan pikiran yang merupakan pancaran emosi dikendalikan oleh pikiran-pikiran agung. Karya seni tidak hanya mementingkan isi dan bentuk semata tetapi berusaha memadukan dua unsur tersebut dalam satu kesatuan yang kental. Karya sastra bersifat etis tetapi sekaligus juga estetis dengan demikian karya sastra mempunyai kemampuan lebih keras dan kuat menorah perasaan penikmatnya.
Karya sastra tidak hanya bermakksud sekedar agar para pembaca tahu apa yang dikomunikasikan, melainkan juga mengajak serta merasakan apa yang dirasakan pengarang atau penyair (Suharianto,1982:15). Disamping itu ketajaman perasaan pengarang menyebabkan ia mampu menangkap getar kehidupan disekitarnya dengan pola mereka dengan mengungkapkan nilai-nilai dalam sebuah karya yang diciptakannya. Kekayaan batin yang dimiliki pengarang mampu mengekpresikan  kehidupan manusia dalam sebuah karya agung.
Karya sastra mampu mendorong manusia ( terutama penikmatnya) kearah munculnya pikiran-pikiran mendalam sehingga mampu membuat atau mengajak para penikmat untuk lebih berfikir arif dan peka teradap fenomena-fenomena kemanusiaan dan mencoba menghadirkan prilaku-prilaku positif dalam masyarakat, karena sastra itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini relevan dengan apa yang dikemukan oleh Damono (1984:1), yang menyatakan “bahwa sastra adalah suatu yang tidak dapat berdiri sendiri atau lepas dari lingkungan manusia yang mengelolanya. Sastra dihasilkan di masyarakat untuk memberikan sesuatu yang bermakna tentang pemahaman yang mendalam terhadap kehidupan manusia atau menawarkan interpretasi secara luas.
Pemahaman terhadap karya sastra tentu tidak terlepas dari lingkungan budaya dan peradaban manusia yang telah menghasilkan karya sastra itu sendiri. Banyak karya sastra yang terlahir dari masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Fenomena seperti ini, sering tercipta oleh perasaan pengarang yang cenderung bersikap menolak terhadap fenomena sosial yang sedang terjadi, walaupun masih juga terdapat penciptaan karya sastra dengan mendukung fenomena yang terjadi di masyarakat.
Sumardjo (1982:18) menyatakan bahwa pengamatan terhadap realita kehidupan sosial dapat melahirkan dua sikap, menolak atau menerima realita itu. Sastrawan yang menolak realitas sosial akan melahirkan karya sastra yang bernada protes, kritik atau dengan demonstrasi, sedangkan sastrawan yang menerima realitas sosial itu diungkapkan dengan impresionis atau diformulasikan dengan pandangan tertentu.
Hal ini tidak dapat dipungkiri, bahwa banyak lahir karya sastra disebabkan adanya fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, karya sastra itupun sering ditampilkan kondisi yang cenderung menentang ketidak adilan yang terjadi di masyarakat karena dianggap tidak sesuai dengan idealisme seseorang atau sekelompok yang dapat melahirkan perenungan batin para sastrawan untuk menyikapi persoalan sosial tersebut dengan tujuan penyampaian pesan moral atau amanat.
Oleh sebab itu, dibutuhkan kreativitas pengarang dalam menciptakan karya sastra yang dapat menggambarkan fenomena sosial yang terjadi dengan tujuan untuk menggambarkan nilai-nilai yang ada dan atau sedang terjadi di masyarakat. Karya sastra yang baik dan bermutu merupakan penafsiran kehidupan masyarakat. Sebuah karya sastra dihargai karena telah berhasil menunjukkan segi-segi baru dari kehidupan sehari-hari manusia. Kehidupan ini ditinjau dari sastrawan dan diberi makna agar penikmat setelah menikmati sebuah karya dapat kembali dalam kehidupan baru dalam masyarakat.
Karya sastra lebih cenderung mengekpresikan nilai-nilai kemanusiaan. Ditegaskan bahwa dalam keseluruhan sejarah perjalanan sastra, karya sastra yang baik selalu menjadi tempat nilai-nilai kemanusiaan dan mendapat tempat sewajarnya. Untuk itu keberadaan karya sastra perlu dipertahankan serta disebarluaskan dalam kehidupan kemanusiaan dalam rangka membendung kemajuan teknologi, individualisme dan pengaruh globalisme dunia yang berkembang pesat yang sering menyajikan nilai-nilai yang bertentangan dengan agama dan moral bangsa.
Menurut Wellek dan Warren (1990:88) “Karya sastra diciptakan pengarang berdasarkan konvensi yang dimiliki pengarang dari perjalanan hidup pribadi”. Oleh karena itu, diharapkan dalam penciptaan karya sastra tidak sekedar berkarya, tetapi dalam proses penciptaan tidak diciptakan dalam kekosongan budaya. Maksudnya dalam penciptaannya pengarang memperhatikan nilai sikap, pandangan, visi atau filsafat bahkan menyangkut masalah-masalah sosial yang lebih luas berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Manusia dan problematiknya merupakan bagian dari kehidupan. Selama manusia masih hidup dan mendiami planet bumi ini, tiada pernah terlepas dari permasalahan kehidupan. Begitu juga karya sastra  mempunyai hubungan erat dengan kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Boulton (dalam Aminuddin, 1987:37) menyatakan bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin penikmatnya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan perenungan atau kontemplasi batin, baik berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik, maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan.
Hal ini menandakan bahwa keberadaan karya sastra tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia yang komplek permasalahannya, baik sebagai inspirasi perenungan atau kontemplasi batin bagi dunia sastra itu sendiri, maupun sebagai sarana penyampaian nilai-nilai atau pesan moral, kritik, protes bahkan mendukung terhadap fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia.

2.2   Pengertian Drama
Karya sastra sebagai fenomena ekpresi keindahan bukanlah bereksistensi abstrak yang jauh dari kenyataan sosial. Salah satu jenis karya sastra adalah drama. Drama merupakan jenis karya sastra fiksi. Fiksi menurut Altenbernd dan Lewis (dalam Aminudin,1987:2) diartikan sebagai prosa naratif yang berisikan imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramtisasikan hubungan-hubungan antar manusia.
Salah satu karya sastra yang menyajikan kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh khlayak dengan menggunakan media percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekor,  didasarkan pada naskah tertulis (hasil seni sastra) atau secara improvisasi, dengan atau tanpa musik, nyanyian dan atau tarian lebih dikenal dengan istilah drama.
Perkataan drama berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak atau beraksi (Waluyo,2001:2). Sedangkan Moulton (dalam Harymawan,1988:8) mendefinsikan drama ialah hidup yang dilukiskan dengan gerak(lifev presented in action).
Selain pengertian drama di atas, terdapat beberapa pendapat ahli yang mendefisinikan drama, berikut ini :
1.      Balthazar Verhagen (dalam Andyasmara,1978:7) memberikan pengertian drama ialah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dalam gerak.
2.      Harymawan (1988:1) menyatakan bahwa drama adalah komunikasi situasi, action (segala apa yang dilihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (exciting) dan ketegangan para pendengar atau penonton.
3.      Nurbaiti Jamalus dan Amir Hasan (1975:106) menyatakan bahwa drama ialah cerita yang ditulis dengan tujuan untuk dipentaskan, diperankan oleh pelaku-pelaku, sehingga penonton dapat melihat keseluruhan cerita itu dalam bentuk yang lebih nyata.
Lebih lanjut istilah drama dalam sejarah perkembangannya di Indonesia dikenal dengan beberapa istilah, diantaranya :
1.      Sandiwara, yang diambil dari bahasa Jawa “sandhi” dan “warah” yang berarti pelajaran yang diberikan secara diam-diam atau rahasia (sandi artinya rahasia dan warah artinya pelajaran) (Waluyo,2001:3).
2.      Tonil, yang berasal dari bahasa Belanda yaitu kata “toneel” yang berarti pertunjukan (Andhyasmara,1978:8)
3.      Lakon, yang berasal dari bahasa Jawa ini mempunyai arti perjalanan cerita (biasanya dikenal dalam pementasan wayang).istilah ini kurang dikenal secara nasional karena kata lakon hanya bersifat kedaerahan, yaitu hanya dibeberapa daerah pada masa kejayaan kerajaan majapahit, seperti: Bali, Jawa dan Madura.
4.      Komedi berarti pementasan yang lucu, tetapi istilah komedi berasal dari bahasa Inggris yaitu”comedy” bermakna suatu bentuk pementasan yang mempunyai jalinan cerita yang lucu namun bukan bentuk lawakan atau badutan.
5.      Teater, istilah teater berasal dari bahasa Yunani “theatron” yang diturunkan dari kata “theomai” yang berarti takjub melihat, memandang (Adhyasmara, 1978:9). Sedangkan RMA. Harymawan (1988:2) menyebutkan bahwa teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan diatas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekor, didasarkan pada naskah yang tertulis tanpa nyanyian, musik dan tarian.
Berbicara pengertian drama secara luas kajiannya, tidaklah berkutat pada pengertian-pengertian semata, tetapi sebagai karya sastra, dalam hal ini drama dilukiskan dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan untuk dipentaskan. Dialog tertulis berupa naskah dengan menggunakan bahasa drama. Penggunaan bahasanya tidak sekaku bahasa puisi dan lebih cair dari pada bahasa prosa.

2. 3 Klasifikasi Drama
Sebagai suatu cerita, drama sebenarnya adalah cerita mengenai konflik, karena itu juga drama disebut seni konflik. Drama merupakan penyatuan dari kemauan manusia dalam menghadapai tantangan atau oposisi dalam kehidupannya, dengan kata lain drama adalah pertentangan atau “clas” antara kencendrungan manusia. Dalam daram harus menjadi kewajiban meghadirkan konflik sebagai oposisi manusia dari hasil perjuangan dalam bentuk aksi (action).
Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan dengan berbagai problemaktinya sehingga membrikan nuansa yang bervariasi baik dalam keadaan sedih maupun gembira. Pengarang yang mumpuni mampu memberikan nuansa baru yakni mencoba memadukan dua sikap tersebut dalam kehidupan dunia pentas (drama) karena kenyataan hidup manusia tidaklah terlepas dari pengalaman kisah sedih dan gembira.
Oleh karena itu pementasan drama tentunya banyak menghadirkan cerita yang berbeda-beda antara pengarang yang satu dengan yang lainnya sehingga dapat melahirkan klasifikasi drama. Menurut Waluyo (2001:38), klasifikasi drama pada abad XVIII, berdasarkan naskah drama, dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) jenis, yaitu :
1.      Tragedi (duka cerita) adalah drama yang melukiskan kisah sedih yang besar dan agung. Tokoh-tokoh didalamnya terlibat dalam bencana yang besar. Tokohnya adalah tragic hero artinya pahlawan yang mengalami nasib tragis. Pengarang berusaha menempatkan keyakinan tentang ketidaksempurnaan manusia dengan menempatkan tokoh utama mengalami kekecewaan dan kehancuran karena kelemahan sendiri.Misalnya: Mrs. Alving karya Henrik Ibsen dan Robert Mayo karya O’Neil.
2.      Komedi (drama ria) adalah drama ringan yang sifatnya menghibur dan dalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan.tokoh yang ditampilkan tokoh yang tolol, konyol atau tokoh bijaksana tapi lucu.Misalnya: Pak Belalang, Pak Pandir dan Abu nawas.
3.      Melodrama adalah lakon yang sangat sentimental, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan. Tokoh yang ditampilkan adalah tokoh tidak ternama (bukan tokoh agung seperti dalam tragedy). Misalnya: Drama Hamlet dan Macbeth atau Romeo dan Yuliet.
4.      Dagelan (Farce) disebut juga banyolan. Drama ini sering disebut drama murahan atau komedi picisan atau komedi ketengan. Dagelan adalah drama kocak dan ringan.
Sedangkan Andyasmara (1979:40) mengklasifikasikan drama berdasarkan isinya dibedakan menjadi 9 (sembilan) macam diantaranya: 1) Tragedi  atau duka cerita yaitu drama yang penuh dengan kesedihan, kemalangan karena pelaku utama dari awal cerita sampai akhir pertunjukan senantiasa kandas dalam melawan nasib buruk, 2) Komedi atau suka cerita yaitu drama penggeli hati. Isi lakonnya penuh dengan sindiran  atau kecaman terhadap orang-orang atau suatu keadaan pelaku yang dilebih-lebihkan., 3) Tragedi komedi atau suka-duka cerita yaitu drama yang penuh dengan kesedihan, tetapi juga hal-hal yang mengembirakan-menggelikan hati, 4) Opera yaitu drama yang berisiskan nyanyian dan musik pada sebagian besar penampilannya digunakan sebagai dialog, 5) Operette yaitu drama jenis opera namun ceritanya lebih pendek, 6) Tableau yaitu drama tanpa kata-kata dari si pelaku, yang mirip dengan pantomime, 7) Dagelan yaitu suatu pementasan cerita yang sudah dipenuhi   unsur-unsur lawakan atau badutan, 8) Drama minikata yaitu drama yang pada saat dipentaskan boleh dikatakan hampir tidak menggunakan dialog sama sekali, hanya dengan menjalankan improvisasi saja dengan gerak-gerak teaterikal, dan  9) Sendara tari yaitu seni drama tari tanpa dialog hanya penampilannya dalam bentuk tarian.
Selain kalsifikasi drama diatas, dapat juga dilihat dari alirannya dan sifat-sifatnya. Walaupun sifat tersebut tidak menjadi corak kaki (pijakan) tetapi hanya dapat menjadi ciri pokok saja karena tidak ada drama yang berpijak pada satu aliran atau sifat secara mutlak seratus persen, tetapi kecendrungan menganut lebih dari satu aliran atau sifat drama. Adapun klasifikasi drama berdasarkan aliran atau sifatnya, di antaranya :
1.      Aliran klasik. Drama dengan aliran ini mempunyai beberapa ciri-ciri; (1) tunduk pada hukum trilogy Aristoteles, (2) actingnya bergaya deklamasi, (3) drama lirik lebih banyak ditulis,(4) irama permainan lamban, banyak diselingi dengan monolog bersifat statis, dan (5) materi cerita bergaya Romawi dan Yunani (Waluyo,2001:57)
2.      Aliran romantik. Drama ini bertentangan dengan drama aliran klaasik, dengan tidak mematuhi hukum drama tetap (trilogy Aristoteles), dengan ciri-ciri: (1) kebebasan bentuk,(2) isi yang fantastis dan sering tidak logis,(3) materinya bunuh-membunuh, teriakan dalam gelap, korban pembunuhan yang hidup kembali dan tokoh-tokohnya sentmentil,(4) mementingkan keindahan bahasa, (5) dalam penyutradaraan segi visual ditonjolkan, dan (6) actingnya bombastis, bernafsu, mimic yang berlebih-lebihan (Harymawan,1988:84)
3.      Aliran realis, dalam hal ini naskah yang ditampakkan lebih pada pencapaian ilusi atas penggambaran kenyataan dalam pentas. Terdapat dua realisme, yaitu: (1) reslisme sosial dengan ciri-ciri; a) peran-peran utama biasanya rakyat jelata, petani, buruh dan sebagainya, b) aktingnya wajar seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. (Harymawan, 1988:85) dan (2) realisme psykologis, dengan ciri-ciri; a) lebih menonjolkan aspek kejiwaan tokoh atau lakon, b) settingnya bersifat wajar dengan intonasi yang tepat, c) suasana digambarkan dengan simbolik (perlambangan), dan d)lebih mementingkan konflik psikologis dari pada konflik fisik (Waluyo, 2001:58)
4.      Aliran ekspresionis, ialah seni menyatakan dengan menonjolkan perasaan atau pikiran pengarang, dengan ciri-ciri: (1) pergantian adengan cepat, (2) penggunaa pentas ekstrem, dan (3) fragmen-fragmen yang film-isme (meniru gaya dan cara film) (Harymawan, 1988:86)
5.      Aliran naturalis, aliran ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari realisme dengan menampakkan kenyataan yang digambarkan diusahakan mungkin dengan kenyataan alam (natural), sehingga penampilan mendekati alam sesungguhnya, dan bukan alam tiruan (lukisan dekor semata)
6.      Aliran eksistensialis, dengan menampilkan tokoh-tokoh yang sadar akan esksistensi (keberadaan) dalam drama yang mengutamakan kebebasan tokoh (kemandirian kuat) akan rohaniyah dan jasmaniah bahkan dikatakan mutlak. Kemandirian menjadi ciri-ciri eksistensi diri yang hendak membentuk kebebasan setinggi-tingginya. Oleh karena itu sang tokoh bicara seenaknya, sehingga lakon kehilangan kontek dengan lawan bicaranya.
Klasifikasi drama di atas, baik secara jenis, isi lakon maupun aliran dan sifatnya berkaitan dengan bentuk  atau pembuatan naskah drama. Oleh karena itu naskah merupakan faktor penting dalam sebuah pementasan drama. Naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) yang diwujudkan dalam dialog-dialog yang terdapat dalam pementasan dan struktur batin (semantik, makna). Dasar teks drama adalah konfik manusia yang digali dari kehidupan manusia yang ditampilkan dalam bentuk pementasan, sehingga penonton dapat melihat kehidupan dunia sekunder bukan dunia primer dari hasil imaji pengarang.

2. 4 Unsur Intrinsik Naskah Drama
Drama sebagai salah satu karya sastra adalah cerita mengenai konflik dalam bentuk percakapan (dialog) diproyeksikan dalam bentuk serapan dan tindakan diatas pentas. Selain itu juga drama dapat dikatakan suatu fenomena seni campuran dalam jenis karya sastra dengan segala unsur kesusastraan di dalamnya. Dialog dalam drama merupakan naskah tertulis sebagai bahan percakapan berupa naskah drama. Oleh karena itu naskah drama merupakan hal penting, keunggulan naskah drama terletak pada konflik yang dibangun oleh adanya pertentangan antara tokoh-tokohnya, maka dibutuhkan kreatifitas pengarang, yang dapat dilihat dari tingkat kemahiran pengarang menjalin konflik dalam cerita naskah drama. Dasar teks drama (dialog) adalah perwujudan konflik manusia yang digali dari kehidupan, ada yang menggambarkan sisi positif (baik) kehidupan dan ada pula yang menggambarkan sisi negative (jelek) kehidupan. Daya pikat drama terhadap penonton, cenderaung ditentukan oleh kuatnya konflik yang disajikan naskah dalam pementasan.
Dalam pembuatan naskah drama, terdapat beberapa struktur atau unsur yang berkaitan antara unsur yang satu dengan unsur lainnya sehingga menjadi satu kesatuan utuh tidak dapat dipisahkan terutama dalam pementasan yang harus diperhatikan oleh pengarang.
Drama dalam karya sastra termasuk dalam penggolongan karya sastra fiksi. Karya sastra fiksi mengandung unsur-unsur didalamnya. Aminuddin (1987: 66) menyatakan bahwa karya sastra fiksi mengandung struktur meliputi: (a) pengarang atau narrator, (b) isis ciptaan, (c) media penyampaian isi berupa bahasa, dan (d) elemen fiksional atau unsur-unsur intrinsic yang membangun karya sastra hingga menjadi suatu wacana.
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur ini hadir secara faktual (Nurgiantoro,1995:23). Unsur intrinsik drama merupakan elemen-elemen yang berkaitan dengan naskah drama, antara lain: plot (alur), tokoh dan penokohan, dialog, setting, tema, dan amanat.
2.4.1        Plot atau kerangka cerita
Plot memang sulit dicari dalam sebuah cerita. Namun jalan cerita bukanlah plot.ia tersembunyi dibalik jalannya cerita yang ditampilkan. Jalan cerita hanya sebuah manefestasi, bentuk wadah, bentuk jasmaniah dari plot itu sendiri. Kebanyakan plot dapat kita temukan dalam sebuah cerita, apabila kita telah mengikuti keseluruhan penampilan yang disajikan. Maka dapat disimpulkan bahwa plot merupakan roh dari keseluruhan cerita yang ditampilkan dan sulit dikenali hanya dapat dilihat dengan konflik dan penyelesaian konflik yang dimunculkan dalam pementasan sebuah cerita.
Peranan plot bagi pengarang merupakan kerangka yang dijadikan pedoman dalam mengembangkan keseluruhan cerita. Sedangkan bagi penikmat, pemahaman plot berarti pemahaman bagi keseluruhan isi cerita secara runtut dan jelas (Aminuddin, 1995:86). Sedangkan Waluyo, (2001:8) menerangkan bahwa plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal sampai akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan.
Konflik berkembang karena kontra diksi para pelaku dalam pementasan, yang berjalan mencapai tinhkatan klimak dan diakhiri dengan penylesaian. Konflik cenderung terjadi akibat adanya dua pelaku yang bertentangan baik berkaitan dengan sifat. kemauan, dan kepentingan, misalnya kebaikan dengan kejahatan, tokoh pembela kebenaran dengan  kontra dengan pembuat kejahatan atau keonaran dan sebagainya.
Struktur konflik drama dianggap baik apabila suatu konflik dilukiskan melalui tahapan-tahapan prosesnya secara lengkap dan memadai, sehingga melakonkan penonton secara logis dan manusiawi (Icksan, 2002:16). Dengan adanya konflik sebagai domain dalam naskah drama sehingga tercipta elemen-elemen atau bagian-bagian dan atau unsur-unsur dalam plot drama. Sumardjo dan Saini (1986:49) mengungkapkan bahwa plot sering dikupas menjadi elemen-elemen, berikut (1) pengenalan, (2) timbul konflik, (3) konflik memuncak, (4) klimaks dan (5) pemecahan soal.
Sedangkan Gustaf Freytag (dalam Waluyo,2001:8) unsur-unsur plot, meliputi: (a) Exposition atau awal cerita, dalam tahap ini pembaca atau penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama dengan watak masing-masing. (b) Komplikasi atau pertikaian awal, dalam tahap ini penonton atau pembaca disajikan atau terlihat latar belakang atau yang menjadi penyebab terjadinya pertikaian awal antar tokoh di dalam cerita (c) klimaks atau titik puncak cerita, dimana dalam tahap ini penonton atau pembaca disajikan konflik yang meningkat hingga mencapai klimaks atau titik puncak kegawatan dalam cerita. (d) resolusi atau Penyelesaian atau falling action, alam tahap ini konflik yang meuncak mulai mereda, karena tokoh yang memanaskan situasi telah berakhir (mati)  atau menemukan jalan pemecahan, dan (e) catastrophe (penyelesaian akhir suatu drama terutama drama klasik yang bersifat tragedi, KBBI, 1990:396) atau denoument (penyelesaian akhir suatu drama yang bersifat komidi, Eddy 1991:27), dalam tahap ini merupakan bentuk penjelasan akhir dari sebuah cerita yang ditampilkan. Berbeda dengan rama modern yang sering berakhir pada tahapan klimaks atau resolusi.
Andhyasmara(1979:68) mengemukan bahwa bagian-bagian plot terdiri dari:
a.       Pemaparan (ekposisi) merupakan bagian pertama sekali pada pola strukturil pementasan. Biasanya dilakukan penjelasan-penjelasan mengenai waktu, tempat, aspek psikologis situasi, tokoh-tokoh.
b.      Penggawatan merupakan insiden permulaan karena merupakan konflik yang terjadi menjadi dasar sebuah cerita drama. Para tokoh utama mulai terlibat konflik awal , sehingga konflik yang terjadi pada bagian ini merupakan bentuk rangsangan awal bagi penonton untuk mengetahui plot.
c.       Penanjakan laku merupakan kelanjutan dari penggawatan, konflik semakin menjadi-jadi secara rentetan kejadian sehingga mengarah pada puncak krisis konflik. Tiap watak, laku dan situasi berjalan dengan wajar tanpa adanya
staginess atau kemandekan makna konflik untuk mengarah pada titik puncak konflik.
d.      Krisis atau titik balik merupakan pencapaian titik puncak konflik atau klimaks yang mengalami ketegangan lakon. Konflik dapat semakin menghebat atau menurun dengan tujuan untuk mendekati penggambaran pencapaian satu titik akhir penyelesaian atau pemecahan konflik.
e.       Peleraian merupakan bentuk lain dari anti klimaks yang merupakan puncak ketegangan konflik yang sudah tidak tertahan karena mencapai klimaks, maka diperlukan pemecahan konflik. Namun dalam pemecahan konflik yang terjadi tentunya tetap membaewa situasi kepada ketegangan bagi penonton.
f.        Penyelesaian merupakan pengembalian fungsi lakon pada kemiripan keseimbangan karena bagian ini bentuk pengakhiran cerita dari sebuah pementasan naskah drama.
 Unsur-unsur plot  harus menjadi keutuhan, artinya setiap bagian atau unsur yang ada padanya menunjang kepada usaha pengungkapan apa yang diingikan pengarang, sehingga tidak ada kata kebetulan dalam pengekpresian suatu karya. Semua direncanakan dengan matang agar tercipta keselarasan antar kestuan unsur-unsur, karena unsur-unsur tersebut menjadi dasar pijakan sehingga hubungan unsur dengan yang lainnya saling mengisi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.
2.4.2 Tokoh dan Penokohan
Tokoh erat hubungannya dengan penokohan. Susunan tokoh (drama persone) adalah daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam drama. Abram (dalam Nurgiantoro, 2000:165)  mendefinikan  tokoh  adalah  orang-orang  yang  ditampilkan  dalam  suatu  karya  naratif  atau  drama,  yang  oleh  pembaca  ditafsirkan  memiliki  kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang ekspreskan dalam ucapan dan apa yang dilaukan dalam tindakan.
Sedangkan Sudjiman (1987:16) mengemukakan bahwa tokoh adalah individu yang mengalami peristiwa dan perlakuan dalam berbagai cerita.. sementara Semi (1988:370 menerangkan bahwa tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarangnya. Karena pemberian watak akan menghasilkan penokohan, maka antara tokoh dan watak merupakan satu kesatuan dalam melahirkan penokohan.
Dari uraian di atas, kita dapat membedakan makna dari penokohan dan perwatakan, untuk mengetahui hal itu perlu mendefinikan makna dari penokohan dan perwatakan itu sendiri. Penokohan menurut Aminuddin (1987:79) adalah cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku. Sedangkan perwatakan menurut Stanton mengacu pada pembaharuan minat, keinginan, emosi dan membentuk individu yang bermain dalam suatu cerita (Semi, 1988:399).
Lebih lanjut Aminuddin (1987:80-81) menyatakan, upaya memahami watak tokoh yang terdapat dalam suatu cerita, dapat menelusuri lewat; (1) tuturan pengarang terhadap karateriktik pelakunya, (2) gambaran yang diberikan pengarang mengenai lingkungan dan cara berpakaian, (3) menunjukkan prilakunya, (4) pembicaraan tokoh lain tentangnya, (5) jalan fikirannya, (6) pembicaraan dengan tokoh lain, dan (7) reaksi tokoh lain terhadapnya.
Biasanya pengenalan tokoh dan perwatakannya dikenalkan pengarang pada tahap pengenalan (pemaparan atau babak awal) dalam pementasan, tetapi dapat juga dilihat pada saat pementasan telah berjalan pada babak selanjutnya karena tidak semua pemaparan tokoh dan watak disampaikan pada babak pengenalan atau pemaparan (eksposisi)
Berbicara penokohan dalam drama, secara tehknis disebut “kisah dari protagonis” yangmenginginkan sesuatu, dan “antagonis” yang menentang terpenuhinya keinginan tersebut. (Protagonis  ialah peran yang membawakan ide prinsipiil dan antagonis; lawan protagonist yang menentang ide prinsipiil tersebut).(Andyasmara, 1978:42).
Sedikit berbeda dengan apa yang dikemukan oleh Waluyo (2001:16) yang mengklasifikasikan pemabagian tokoh: a) berdasarkan peranannya terhadap jalan cerita dan b) berdasarkan perannya dalam lakon serta fungsinya. Berdasarkan peranannya tokoh drama terbagi, (1) Tokoh protagonis adalah tokoh yang mendukung cerita. Biasanya dalam pementasan drama terdapat satu atau dua figur tokoh protagonis utama yang mendukung cerita dan beberapa tokoh pembantu yang juga ikut mendukungnya, (2) Tokoh antagonis adalah tokoh penentang arus cerita. Biasanya ada seorang tokoh utama yang menentang cerita, dan beberapa figure pembantu yang ikut juga menentang cerita, dan (3) Tokoh trigonis adalah tokoh pembantu baik untuk tokoh protagonist maupun tokoh antagonis.
Sedangkan berdasarkan lakon dan fungsinya terbagi, (1) tokoh sentral, yaitu tokoh yang menentukan gerak lakon. Tokoh ini merupakan biang keladi pertikaian atau konflik dalam drama, (2) tokoh utama yaitu tokoh pendukung atau tokoh penentang tokoh sentral, dan (3) tokoh pembantu yaitu tokoh yang mempunyai peranan sebagai pelengkap dalam mata rantai cerita drama.
2.4.3 Dialog atau Percakapan
Menurut Nurbaiti dan Hasan (1975:116) dialog adalah percakapan dan tanya jawab antara pelaku. Selanjutnya dipaparkan dalam tugas dialog itu ada 2 (dua), yang pertama menerangkan isi cerita kepada penonton; yang kedua memperkenalkan watak-watak pelakunya.Tiap kalimat dalam dialog sedapat-dapatnya mencakup pengertian yang membantu memperjelas keseluruhan jalannya cerita.
Selain itu dialog dapat kita tinjau dari dua segi, yaitu segi estetis dan segi teknis. Dari segi estetis dialog merupakan factor literer (juga filosofis) yang mempengaruhi struktur keindahan dan dari segi teknis biasanya diberi catatan pengucapan, ditulis dalam kurung. (Harymawan,1988:58-59). Banyak naskah drama yang sulit dipentaskan karena dialognya bukan ragam bahasa tutur, tetapi ragam bahasa tulis. Ragam bahasa dalam dialog adalah bahasa lisan yang komunikatif bukan bahasa ragam tulis. Hal ini karena drama adalah potret kehidupan yang diminiaturkan dalam seni pentas.
Maka dari itu pemilihan diksi hendaknya disesuaikan dengan dramatic-action dari plot drama karena elemen percakapan dalam naskah drama merupakan cara ungkap utama bagi pengarang. Dialog dalam naskah drama mendukung beberapa fungsi, tidak sekedar percakapan ide bertele-tele tanpa makna, tanpa menunnjukkan arah pembicraaan yang menyebabkan lakon drama kehilangan esensinya.
Menurut Oscar G. Brockett (dalam Akhudiat, 1989:1) dipaparkan paling tidak ada enam fungsi yang didukung oleh dialog, antara lain: a) memberikan informasi, b) mengungkapkan perwatakan, c)menjurus pada elemen-elemen plot yang penting, d) mengungkapkan tema atau ide drama, e) membantu meletakkan nada dasar cerita, dan f) memantapkan tempo dan ritme drama.
Oleh karena itu dialog dalam sebuah drama pementasan menjadi ciri khas,  naskah itu berbentuk cakapan. Dalam menyusun dialog seorang pengarang harus memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh. Pembicaraan yang terangkum dalam naskah drama harus pantas diucapkan di atas pentas disesuaikan dengan fungsi dialog. Dialog yang baik merupakan bentuk percakpan yang sudah diatur dengan dipilih klimat-kalimatnya sehingga tiap perkataan yang diucapkan merupakan mata rantai keseluruhan cerita.

2.4.4 Landas Lampu/Tempat Kejadian/Setting
Setting atau landas tumpu kejadian cerita sering disebut sebagai latar cerita. Penentuan ini harus cermat sebab drama naskah harus memberikan kemungkinan untuk dipentaskan. Setting biasanya meliputi tiga dimensi, yaitu: tempat, ruang dan waktu. Aminuddin (1987:67) mengartikan setting sebagai latar peristiwa yang terjadi meliputi fisikal dan psikolgis yang metaforis. Setting fisikal berupa fisik atau benda, misalnya gunung, kantor dan lainnya. Setting psikologis adalah suasana sikap atau segala sesuatu yang diberikan makna dan suasana tertentu.
Sedangkan Eddy (1991:123) menyatakan bahwa  latar atau setting ialah keseluruhan keterangan mengenai tempat (ruang) waktu dan suasana lokasi dan situasi yang melingkupi tokoh. Sedangkan Kenny (dalam Sudjiman, 1988:84) memberi rincian latar meliputi penggambaran geografis, termasuk topografi, pemandangan, sampai dengan rincian perlengkapan ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadi, lingkungan agama, moral agama, moral intelektual, sosial dan ekonomi para tokoh.
Mengacu pada pendapat di atas, bahwa setting atau latar merupakan suasana yang ditampakkan pada penikmat atau penonton. Jika dalam naskah drama, setting belum dilukiskan secara jelas, maka pengarang harus menafsirkan setting itu dengan jelas dan lengkap. Hal ini untuk memudahkan bagi penikmat drama memahami naskah drama yang dipentaskan maupun yang sedang dibacanya baik berkaitan dengan tema, plot, watak (kareakter) dan isi cerita, sehingga dengan demikian diharapkan penonton mampu menghayati jalannya cerita yang disajikan atu ditampilkan.
2.4.5 Tema atau Nada Dasar Cerita
Pengarang dalam menulis naskah drama bukan sekedar mencipta, tetapi sekaligus mengatakan kepada penikmat sesuatu yang akan dikatakan lewat isi naskah keseluruhan, baik menyangkut kehidupan, pandangan hidup atau komentar tentang sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Biasanya ungkapan tersebut disampaikan sering terbalik dimaknai oleh penikmat, disebabkan penikmat kurang memahami tema yang terdapat dalam cerita yang disajikan.
Waluyo (2001:24) mengemukan bahwa tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema berhubungan dengan premis dari drama tersebut yang berhubungan pula dengan nada dasar sebuah drama dan sudut pandang yang dikemukan oleh pengarang.
Sedangkan Sharbach (dalam Aminuddin, 1995:91) mengemukakan bahwa tema berasal dari bahasa latin yang berarti tempat meletakkan suatu perangkat. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memamparkan karya yang diciptakannya.
Tema dalam naskah drama berkaitan erat dengan struktur drama lainnya. Tema akan dikembangkan melalui alur dramatik (plot) yang diperankan oleh para tokoh-tokoh (penokohan dan perwatakan)  diformulasikan dalam bentuk percakapan (dialog), Sehingga menjadi satu kesatuan pandangan yang akan disampaikan para pengarang dihadapan penonton. Semakin kuat pengarang menampakkan tema dalam pementasan cerita maka penonton semakin mudah memahami tema yang tersembunyi. Sebaliknya semakin rendah penjiwaa pengarang dalam menyajikan cerita maka memungkinkan penikmat akan merasa kebingunan dalam menemukan tema ceritanya.


2.4.6 Amanat atau pesan
Amanat sebuah drama kana lebih mudah dihayati penikmat bila naskah tersebut dipentaskan, kreana penikmat langsung melihat berupa lakon yang ditampilkan dari keseluruahn cerita, dibandingkan penikmat hanya sebatas membaca sendiri naskah cerita drama. Walaupun manta atau pesan itu dicari oleh penikmat. Secara sadar amaupun tidak sadar pengarang pasti menyisipkan amanat atau pesan kepada penikmat dalam naskah drama.
Amanat biasanya memberikan manfaat positif (kebaikan) karya yang disajikan dihadapan penonton. Setiap penonton tentu berbeda-beda dalam menafsirkan amanat atau peasan yang disampaikan pengarang, semua penafsiran tersebut cenderung dibenarkan. Karena amanat atau pesan bersifat kias , subjektif dan umum.
Misalnya dalam pementasan Ramayana, amanat yang sering tertangkap oleh penonton adalah tidak ada manusia sempurna, karena disisi kebaikan yang dimiliki manusia terdapat pula sisi kejahatannya, begitu pula sebaliknya disisi manusia yang memiliki kejahatan tentunya masih terdapat pula sisi kebaikannya. (Waluyo, 2002: 28)
Menurut Eddy (1991: 15), amanat dalam karya sastra berarti pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengarnya/pemirsa lewat karya ciptanya.
Semua amanat dalam karya sastra kita sebut ide, tetapi tidak semua ide dapat kita sebut amant. Ide yang tidak diarahkan oleh pengarang (pencipta) menjadi pesan yang disampaikan kepada pembaca, pendengar/pemirsa, tidak dapat disebut amanat.
Lebih lanjut Eddy (1991:16) menyatakan bahwa dalam karya sastra lama, amanat disampaikan secara tersurat (samar, menyindir).
Amanat yang terlalu kita tonjolkan dengan mengorbankan nilai-nilai estetika dapat merusak keutuhan karya sastra. Karya sastra semacam ini umumnya terjadi pada karya sastra yang diciptakan atas dasar “pesanan” untuk mempromosikan sesuatu. Penciptaan yang hanya terpaku pada material (pesanan) maka akan lupa nilai-nilai estetika yang akan dikaitkan dengan perkembangan selanjutnya.

Download Selengkapnya

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment