OBAT DERMATOMIKOSIS

Posted by Education World on Minggu, 18 November 2012

OBAT JAMUR


INFEKSI JAMUR PADA MANUSIA :
DIBEDAKAN ATAS :

  1.  INFEKSI SISTEMIK
  2.  DERMATOFIT
  3.  MUKOKUTAN
INFEKSI SISTEMIK :

  1. Infeksi dalam ( internal)
  2. Infeksi subkutan 
INFEKSI DALAM ( INTERNAL)


Infeksi ini meliputi 

  1. Aspergilosis
  2. Blastomikosis
  3. Koksidiodomikosis
  4. Kriptokokosis
  5. Histoplasmosis
  6. Mukormikosis 
  7. Kandidiasis
INFEKSI SUBKUTAN 

  • Infeksi bawah kulit 
Infeksi ini meliputi : 

  1. Kromomikosis
  2. Misetoma
  3. Sporotrikosis
INFEKSI DERMATOFIT:
meliputi : 

  1. Trichophyton                  menyerang kulit
  2. Epidermophyton           rambut dan kuku
  3. Microsporum
INFEKSI MUKOKUTAN :
meliputi : 

  1. Kandida à menyerang mukosa dan daerah lipatan kulit yang lembab.
  2. Kandidiasis mukokutan ( kronis) à mukosa kulit dan kuku
Dasar Farmakologis Terapi Infeksi Jamur


Obat / Anti Jamur yang digunakan untuk INFEKSI JAMUR SISTEMIK ini meliputi Produk farmasi berupa 

  1. Amfoterisin B
  2. Flusitosin
  3. Imidazol dan Triazol
  4. Kaspofungin
  5. Terbinafin
   
Obat / Anti Jamur yang digunakan untuk UTK INFEKSI DERMATOFIT DAN MUKOKUTAN   ( INFEKSI JAMUR TOPIKAL ) meliputi Produk farmasi berupa 

  1. GRISEOFULVIN
  2. IMIDAZOL DAN TRIAZOL
  3. TOLNAFTAT  DAN TOLSIKLAT
  4. NISTATIN
    Obat . Anti jamur lainnya yang juga bisa digunakan  yaitu  

  1. Asam Benzoat 
  2. Asam Salisilat
  3. Asam  Undesilenat Haloprogin
  4. Siklopiroks Olamin
  5. Terbinafin
DETAIL 


AMFOTERISIN B 





  1. KARAKTER AMFOTERISIN B  
  2. Menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang
  3. Aktivitas antijamur nyata pada pH 6,0-7,5  tapi berkurang pada pH lbh rendah
  4. Bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung dosis dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi

MEKANISME KERJA à 
  • Obat ini berikatan kuat dengan ergosterol pada membran sel jamur à membran sel bocor à hilang bbrp bahan intrasel  à kerusakan tetap pada sel
  • Bakteri, virus, riketsia tidak dipengaruhi oleh obat ini à tidak punya gugus sterol pada membran selnya
  • Pengikatan kolesterol pada membran sel hewan dan manusia oleh antibiotik ini à salah  satu penyebab efek toksiknya.
  • Resistensi thd obat ini à perubahan reseptor sterol pada membran sel

FARMAKOKINETIK
  • Sedikit sekali / tidak diserap mel sal cerna
  • Suntikan dimulai dengan dosis 1,5 mg/hari, di tingkatkan secara bertahap spi dosis 0,4-0,6 mg/kgBB/hari à kadar puncak 0,5-2ug/ml pd kadar mantap
  • Waktu paruh 24-48 jam pd dosis awal, diikuti oleh eliminasi fase kedua dgn waktu paruh 15 hari ( kadar mantap tercapai stlh bbrp bulan pemakaian) 95% obat beredar dlm plasma à terikat lipoprotein
  • Mungkin dapat menembus sawar uri, sebagian kecil mencapai CSS, humous vitreus dan cairan amnion
  • Ekskresi melalui ginjal lambat sekali ( hanya 3% dr jumlah yg diberikan selama 24 jam)

EFEK SAMPING :
  1. kulit panas
  2. keringatan
  3. sakit kepala
  4. demam
  5. menggigil
  6. lesu
  7. anoreksia
  8. nyeri otot
  9. flebitis
  10. kejang
  11. penurunan fungsi ginjal ( terutama pemberian suntikan )
INDIKASI :
  • Spektrum lebar, bersifat fungisidal à obat pilihan utk hampir semua infeksi jamur    
  • Terapi infeksi jamur : Koksidioidomikosis, para koksidioidomikosis, aspergilosis, kromoblasto- mikosis dan kandidiosis
  • Mungkin efektif à maduromikosis /misetoma dan mukormikosis ( fikomikosis)
  • Obat terpilih à utk blastomikosis
  • Tetesan topikal à korneal dan keratitis mikotik  ( efektif )
  • Endoftalmitis  à suntikan intraorbital

FLUSITOSIN

AKTIVITAS ANTIJAMUR:
  •   Spektrum antijamur agak sempit
  •   Efektif utk terapi kriptokokosis, kandidiasis, kromomikosis, torulopsis dan aspergilosis
  •   Cryptococcus dan Candida à dapat resisten selama terapi dgn flusitosin

 MEKANISME KERJA :

  • Obat ini masuk sel jamur dgn bantuan sitosin deaminase à dlm sitoplasma bergabung dgn RNAà 5 FU dan fosforilasi
  • Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan langsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil
  • Pada sel mamalia keadaan ini tidak terjadi à flusitosin tidak diubah menjadi fluorourasil
FARMAKOKINETIK :

  • Diabsorpsi cepat dan baik mel sal cerna
  • Absorpsi diperlambat à makanan, suspensi Al hidroksida/ Mg hidroksida dan neomisin
  • Per oral àkadar puncak dlm darah sekitar 70-80 ug/ml dicapai dlm 1-2 jam setelah pemberi an dosis 37,5 mg/kgBB.
EFEK SAMPING :
  1. kurang toksik dibandingkan amfoterisin B
  2. menimbulkan anemia
  3. leukopenia
  4. trombositopenia ( pasien kelainan hematologik sedang terapi radiasi atau obat supresi fungsi sutul)
  5. mual, muntah, diare dan enterokolitis hebat
  6. tidak bersifat nefrotoksik

INDIKASI:

  • Tunggal Flusitosin àinfeksi Cryptococcus neoformans, beberapa spesies candida dan infeksi kromoblastomikosis
  • Meningitis oleh Cryptococcus à kombinasi 100-150 mg/kg BB/hari Flusitosin dengan 0,3 mg/kg BB/hari Amfoterisin B
  • Kombinasi diatas à obat terpilih utk infeksi Kromoblastomikosis
IMIDAZOL DAN TRIAZOL
Kelompok  IMIDAZOL terdiri dari

  1. Ketokonazol
  2. Mikonazol
  3. Klotrimazol 
Kelompok TRIAZOL terdiri dari

  1.  Itrakonazol
  2. Flukonazol 
  3. Vorikonazol.

  • Imidiazol maupun Triazol mempunyai kemampuan spektrum anti jamur luas
ANTIJAMUR SISTEMIK yang banyak digunakan:

  1. Ketokonazol
  2. Itrakonazol
  3. Flukonazol 
  4. Vorikonazol
KASPOFUNGIN

  • Antijamur sistemik dari kelas baru Eikokandin
  • Bekerja dengan menghambat sintesis beta (1,3)-D-glukan, suatu kompenin esensial yg membentuk dinding sel jamur
  • 97% obat dalam darah terikat protein
  • Masa paruh eliminasi 9-11 jam
  • Metabolisme lambat dengan cara hidrolisis dan asetilasi
  • Ekskresi melalui urin sedikit sekali
 INDIKASI : infeksi jamur sbb:

  1. Kandidiasis invasif ( kandidemia pada penderita neutropenia atau non netropenia)
  2. Kandidiasis esofagus
  3. Kandidiasis orofarings
  4. Aspergilosis invasif yg sdh refrakter terhadap antijamur lain.
TERBINAFIN
Anti Jamur kelompok ini 

  1. Bersifat keratofilik dan fungisidal
  2. Mempengaruhi biosintesis ergosterol dinding sel jamur mel penghambatan enzim skualen eposidase pada jamur ( bukan melalui penghambatan enzim sitokrom P450)
Penggunaan :

  1. Terapi Dermatofitosis à terutama Onikomikosis
  2. Terapi kandidiasis kutaneus dan tinea versikolor à kombinasi dengan imidazol atau triazol ( monoterapi < efektif )
  3. Tersedia dlm bentuk tablet oral
Farmakokinetik :

  1. absorpsi  mel sal cerna baik
  2. bioavailabilitas oral hanya 40% ( mgal metab 
  3. lintas pertama di hati )
  4. terikat  dgn protein plasma lbh dr 99%
ANTIJAMUR UNTUK INFEKSI DERMATOFIT DAN MUKOKUTAN
GRISEOFULVIN :

  •  Efektif  thd jamur dermatofit  à trichophyton, epidermophyton, mikosporum
  •  Tidak efektif thd bakteri, jamur lain dan ragi, actinomyces dan nocardia
à Obat ini akan menghambat mitosis sel muda dengan mengganggu sintesis dan polimerisasi asam nukleat


Farmakokinetik :

  • Absorpsi pd sal cerna  bgn atas kurang baik ( obat ini tidak larut dlm air )
  • Preparat btk < kecil ( micronized ) à diserap lbh baik
  • Absorpsi meningkat bl bersama makanan berlemak
  • Di metabolisme di hati ( metabolit utama 6-metilgriseofulvin)
  • Waktu paruh kira-kira 24 jam
  • 50% dosis oral dikeluarkan bersama urin dlm btk metabolit selama 5 hari.
INDIKASI :

  • Memberikan hasil baik terhadap penyakit jamur di kulit, rambut dan kuku
  • Gejala pada kulit berkurang dalam 48-96 jam ( sembuh sempurna stlh bbrp minggu)
  • Infeksi kuku tangan butuh waktu 4-6 bulan
  • Infeksi kuku kaki butuh waktu 6-12 bulan
  • Kandidiasis dan tinea versicolor tidak dpt diobati dgn Griseofulvin
  • Dosis tgi griseofulvin à karsinogenik dan teratogenik
IMIDAZOL DAN TRIAZOL


MIKONAZOL:

  •  Menghambat aktivitas jamur trichophyton, epidermophyton, microsporum, Candida dan Malassesia furfur
MEKANISME KERJA 

  • à Mikonazol masuk kedlm sel jamur dan menyebabkan kerusakan dinding sel 
  • à permeabilitas thd zat intrasel meningkat
  • à sintesis asam nukleat / penimbunan peroksida dlm sel jamur 
  • à kerusakan
Indikasi mikonazol topikal à 

  1. dermatofitosis
  2. tinea versikolor 
  3. kandidiasis mukokutan
KLOTRIMAZOL:

  • Berbentuk bubuk tidak berwarna
  • tidak larut dlm air
  • larut dlm alkohol dan kloroform
  • sedikit larut dalam eter
Secara topikal untuk pengobatan 

  1. tinea pedis
  2. kruris 
  3. korporis
  4. tinea versicolor
  5. Juga utk infeksi kulit dan vulvovaginitis oleh  C.albicans

  • Tersedia dlm bentuk krim dan larutan 1% à 0les 2 kali sehari
TOLNAFTAT dan TOLSIKLAT

  • Adalah suatu tiokarbamat yang efektif utk terapi sebgn besar dermatofitosis
  • Tidak efektif terhadap kandida
  • Tersedia dlm btk krim, gel, bubuk, cairan aerosol atau larutan topikal kadar 1%
  • Diberikan lokal 2-3 kali sehari
  • Gatal hilang dlm 24-72 jam
  • Lesi hiperkeratosis à tolnaftat bergantian dgn salep asam  salisilat 10%
  • TOLSIKLAT : jrng digunakan, spektrum sempit
NISTATIN

  • àMenghambat pertumbuhan jamur dan ragi
  • Tidak aktif thd bakteri, protozoa dan virus
MEKANISME KERJA:

  • Tergantung ikatan dgn sterol pada membran sel jamur atau ragi terutama ergosterol 
  • à perubahan permeabilitas membran sel 
  • à sel akan kehilangan berbagai molekul kecil
  • Terutama utk infeksi kandida di kulit infeksi pada selaput lendir dan saluran cerna
Note: 


  • Paronikia, vaginitis, kandidiasis oral dan sal cerna à cukup diobati secara topikal
  • Kandidiasis di mulut, esofagus dan lambung ( mrpkn komplikasi peny darah ganas yang mendpt terapi imunosupresif ) àrespons baik dgn nistatin
  • Bl tdk ada perbaikan à ketokenazol
  • E.S àjarang ditemukan (mual, muntah, diare ringan akbt pemberian oral)
  • Dosis dlm unit ( 1 mg obat ini mgdg 200 unit nistatin). Tersedia dlm btk krim, bubuk, salep, suspensi dan obat tetes

ANTIJAMUR TOPIKAL LAIN
ASAM BENZOAT DAN ASAM SALISILAT

  • Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat dalam perbandingan 2:1 ( 6% dan 3%) à salep Whitfield
  • Asam benzoat à efek fungistatik
  • Asam salisilat à keratolitik
ASAM UNDESILENAT:

  • dosis  biasa à efek fungistatik
  • Dosis tinggi, pakai lama à efek fungisidal
  • Obat ini aktif thd: epidermophyton, trichophy- ton dan microsporum
HALOPROGIN:

  • Merupakan antijamur sintetik
  • Bersifat fungisidal à epidermophyton, trichophyton, microsporum dan malassezia furfur
  • Sedikit sekali diserap melalui kulit
SIKLOPIROKS  OLAMIN:

  • Antijamur topikal spektrum luas
  • Penggunaan kulit à dermatofitosis, kandidiasis dan tinea versikolor
TERBINAFIN

  • Digunakan utk terapi dermatofitosis terutama onikomikosis
  • Terbinafin topikal tersedia dalam bentuk krim 1% dan gel 1%
  • Topikal digunakan untuk pengobatan tinea kruris dan korporis diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu
PEMILIHAN PREPARAT

  • Infeksi jamur paling sering ditemukan à infeksi non sistemik
  • Dermatofitosis  dapat diatasi dengan obat bebas à tolnaftat dan asam undesilenat
  • Efektivitas sedang àhaloprogin
  • Infeksi lebih berat à gol imidazol ( mikonazol klotrimazol )
Lesi hiperkeratosis pada kuku dan telapak à

  • Kombinasi antijamur topikal yang poten dengan zat keratolitik mis asam salisilat
  • Infeksi berat pada kepala, telapak dan kuku à griseofulvin selama beberapa bulan
  • Utk pengobatan onikomikosis àitrakonazol atau  terbinafin ( lebih banyak dipilih)
  • Untuk terapi tinea versikolor à selenium sulfida, Natrium tiosulfat 25% dengan asam salisilat 1%
  • Kl tidak berhasil àtolnaftat, haloprogin dan gol imidazol seringkali berhasil
Kandida à 

  • Floral normal yang dapat menjadi patogen pada penderita yg daya tahannya menurun
  • .Daerah yang terserang adalah kulit lembab dan mukosa  àrongga mulut, saluran cerna, perianal, vulvovaginal dan daerah lipatan kulit
  • Diatasi dengan à topikal haloprogin, nistatin, amfoterisin B, mikonazol, klotrimazol dan imidazol lain
  • Bila hasil tidak  memuaskan à ketokenazol oral
  • Kombinasi kortikosteroid + antijamur topikal à terapi jangka pendek pada infeksi dgn tanda radang yang jelas
Bila peradangan telah reda, rasa gatal sdh berkurang 

  • à terapi lanjut antijamur saja Mikosis Sistemik 
  • à agak jarang ditemukan, tp berbahaya dan sifatnya kronis 
  • à AMFOTERISIN B efektif utk infeksi sitemik berat ( krn toksisitasnya diberi dlm infus di RS)
  • Vorikonazol  à Antijamur baru utk infeksi sistemik , spektrum luas 
  • à oral, toksisitasnya rendah. Lebih aktif thd Sp Aspergilus dp amfoterisin B.

{ 0 comments... read them below or add one }

Poskan Komentar