Indonesia dalam Middle Income Trap

Posted by Education World on Tuesday, 15 September 2015



Middle Income Trap adalah suatu kondisi dimana negara telah berhasil keluar dari zona negara berpenghasilan rendah namun tidak mampu melangkah ke zona negara berpenghasilan tinggi. Fenomena Middle Income Trap merupakan momok bagi negara berkembang karena pada kondisi ini, perekonomian suatu negara akan tetap tumbuh fluktuatif namun tidak akan bisa mencapai kondisi perekonomian negara maju. Dua negara yang dikenal memiliki sejarah Middle Income Trap yang panjang adalah Yunani dan Argentina. Argentina setidaknya harus terjebak di zona Middle Income Trap selama 40 tahun semenjak masuk ke zona negara menengah pada 1970 sebelum akhirnya masuk kategori negara berpenghasilan tinggi pada 2010 silam. Begitupun Yunani, yang memerlukan waktu hampir 28 tahun sebelum akhirnya masuk pada golongan negara berpenghasilan tinggi.
            Indonesia saat ini masih berada di zona negara berkembang selama kurang lebih 12 tahun. Kekhawatiran pun muncul ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diprediksi turun menjadi 5,67%. Hal itu merupakan gejala bahaya bagi negara berkembang karena meskipun perekonomian tumbuh, namun berada di bawah batas ideal pertumbuhan ekonomi negara berkembang yakni di kisaran 6%. Pemangkasan prediksi tersebut menurut para ekonom karena ekspor yang mulai lesu. Lalu bagaimanakah langkah yang tepat agar kekhawatiran ini bisa dihindari?
            Banyak negara yang bisa dijadikan teladan bagi Indonesia dalam keluar dari ancaman zona Middle Income Trap ini. Salah satunya adalah Korea Selatan. Negara tersebut telah melakukan transformasi yang luar biasa dari salah satu negara termiskin di dunia menjadi negara menengah dan akhirnya masuk pada kategori negara maju hanya dalam waktu 50 tahun. Strategi yang ditempuh Korea Selatan sangatlah unik. Dia berfokus untuk mendorong sektor spesifik  yang berpotensi sebagai kekuatan ekonomi negaranya, yakni sektor teknologi otomotif, elektronik, serta barang mewah lainnya. Meskipun berfokus pada sektor tersebut, Korea Selatan tidak lantas mengabaikan sektor public yang lain. Korea Selatan tetap memperhatikan sektor lain agar tetap tumbuh meskipun cenderung stagnan. Negara lain yang dapat dijadikan contoh bagi Indonesia dalam rangka keluar dari jebakan Middle Income Trap adalah China. Selama beberapa dekade, ekonomi China tumbuh layaknya negara berkembang pada umumnya. Namun kemudian strategi ditempuh oleh menteri keuangannya berupa pengalihan sektor subsidi bagi pertanian ke sektor manufaktur. Hal itu terbukti ampuh karena mendorong terjadinya industrialisasi sehingga bisa menekan biaya produksi yang berimbas pada nilai ekspor yang meningkat. Kemudian menteri keuangan selanjutnya, Lou Jiwei, yang bertanggung jawab atas $28 trilliun utang cina menggunakan leverage tersebut ke sektor manufaktur dan industri dengan tujuan terwujudnya negara industri yang serba mesin sehingga bisa menekan biaya upah pegawai. Cara tersebut terbukti ampuh menempatkan China dalam salah satu negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonominya yang tinggi, mencapai 7.5% setiap tahunnya.
            Dalam mengatasi masalah Middle Income Trap yang menghantui Indonesia, saya pribadi mengusulkan beberapa solusi dengan berkaca pada pengalaman negara negara yang berhasil lolos dari zona tersebut.
Pertama, meningkatkan tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat. Dengan tingkat pendidikan dan kesehatan yang tinggi dapat mendorong tingkat kreatifitasan dan mendukung terobosan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Diharapakan dengan masyarakat yang berpendidikan tinggi dapat mencipatakan teknologi yang mendukung terwujudnya negara industri. Dengan mekanisasi di sektor industri, diharapakn dapat menurunkan biaya upah pegawai sekaligus meningkatkat produktifitas produksi. Jumlah ekspor meningkat sedangkan biaya ekspor bisa ditekan.
Kedua, mendukung terwujudnya startup dan mendorongnya sebagai kekuatan ekonomi yang baru. Mungkin kita bisa berkaca pada Korea Selatan yang memiliki kekuatan di Industri elektronik berkat Samsung dan LG, dan di sektor otomotif berkat Hyundai, Indonesia juga perlu memberikan dukungan pada startup agar suatu saat bisa menjadi kekuatan ekonomi baru. Pemilihan startup harus berada pada sektor strategis bangsa, seperti sektor pertanian dan pertambangan.
Ketiga, perbaikan infrastruktur. Dengan dukungan infrastruktur yang baik, maka kegiatan perekonomian di masyarakat dapat meningkat dan arus perekonomian juga semakin lancar. Dengan infrastruktur yang baik, diharapkan investor asing akan menanamkan modalnya di Indonesia yang kemudian bisa meningkatkan perekonomian negara.
Keempat, mengalihkan subsidi ke sektor penting. Pada tahun 2014, sekitar 457 Trilliun dari total APBN Indonesia dialihkan ke sektor yang dianggap sia sia, yakni hanya untuk mensubsidi BBM. Angka itu sangatlah besar karena mencapai 22% dari total APBN Indonesia. Seharusnya, biaya tersebut dapat dialokasikan ke sektor lain yang lebih potensial seperti pertanian, industri, dll.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment