Laporan Berat Volume Agregat Pada Beton

Posted by Education World on Saturday, 31 October 2015

2.1.1   Tujuan Praktikum

Pemeriksaaan ini bertujuan untuk menentukan berat volume agregat kasar dan agregat halus dalam kondisi padat maupun kondisi gembur.

2.1.2   Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pengujian berat volume agregat adalah sebagai berikut.
a.       Timbangan dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh
b.      Talam tahan karat berkapasitas cukup besar sebagai wadah untuk mengeringkan contoh agregat
c.       Tongkat pemadat dengan panjang 60 cm dan diameter 15 mm, ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat
d.      Mistar perata
e.       Sekop
f.        Wadah baja yang cukup kaku berbentuk silinder
Bahan yang digunakan dalam pengujian berat volume agregat adalah agregat kasar dan agregat halus dalam kondisi kering.

2.1.3   Prosedur Pemeriksaan

Agregat dimasukkan ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan tabel diatas, keringkan dengan oven pada suhu (110 ± 5)0 C sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
1)         Berat Isi Lepas
a.    Berat wadah ditimbang dan dicatat
b.   Benda uji dimasukkan dengan hati – hati agar tidak terjadi pemisahan butir – butir dari ketinggian 5 cm di atas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai jenuh.
c.    Permukaan benda uji diratakan dengan menggunakan mistar perata.
d.   Berat wadah beserta benda uji dihitung dan dicatat (W2).
e.    Berat benda uji dihitung (W3=W2-W1).

2)        Berat isi agregat ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5”) dengan cara penusukan
a.    Berat wadah ditimbang dan dicatat (W1)
b.   Wadah diisi dengan benda uji dalam tiga lapis yang sam tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukan sebanyak 25 kali secara merata.
c.    Permukaan benda uji diratakan dengan menggunakan mistar perata.
d.   Berat wadah beserta benda uji ditimbang dan dicatat (W2).
e.    Berat benda uji dihitung (W3=W2-W1).

3)        Berat isi pada agregat ukuran butir antara 38,1 mm (1,5”) sampai dengan 101,1 mm (4”) dengan cara penggoyangan.
a.    Berat wadah ditimbang dan dicatat (W1).
b.   Wadah diisi dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal.
c.    Setiap lapis dipadatkan dengan cara menggoyang-goyangkan wadah dengan prosedur sebagai berikut.
·           Wadah diletakkan di atas tempat yang kokoh dan datar angkatlah salah satu sisinya ira-kira setinggi 5 cm kemudian lepaskan.
·           Hal ini diulangi pada sisi yang berlawanan. Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi.
d.   Permukaan benda uji diratakan dengan menggunakan mistar perata.
e.    Berat wadah beserta berat benda uji ditimbang dan dicatat (W2).
f.     Berat benda uji dihitung (W3=W2-W1).

2.1.4   Pengolahan Data

Berat volume (Berat isi) adalah perbandingan antara berat material dalam kondisi kering dengan volumenya.
Berat volume agregat  (kg/dm3)
dengan  = berat benda uji (kg)  ;    = volume wadah (dm3)

Tabel 2.1 Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar

Pengukuran
Padat
Gembur
A
Volume Wadah
2,781 ltr
2,781 ltr
B
Berat Wadah
2,675 kg
2,675 kg
C
Berat Wadah + Benda Uji
6,280 kg
5,927 kg
D
Berat Benda Uji (C-B)
3,605 kg
3,252 kg
Berat Volume                        
1,296 kg/ltr
1,169 kg/ltr

Tabel 2.2 Pemeriksaan Berat Volume Agregat Halus

Pengukuran
Padat
Gembur
A
Volume Wadah
1,890 ltr
1,890 ltr
B
Berat Wadah
0,608 kg
0,608 kg
C
Berat Wadah + Benda Uji
3,800 kg
3,657 kg
D
Berat Benda Uji (C-B)
3,192 kg
3,049 kg
Berat Volume
1,689 kg/ltr
1,613 kg/ltr


Berat Volume Rata – rata
·  Kondisi Padat             =   = 1,492 kg / ltr
                                      
·  Kondisi Gembur         =   = 1,391 kg / ltr

2.1.5   Analisis Data

Dari hasil pengujian didapat berat volume agregat dalam kondisi padat lebih besar dibandingkan dengan berat volume agregat dalam kondisi gembur, baik pada agregat kasar maupun pada agregat halus. Hal ini disebabkan oleh penumbukkan yang dilakukan pada pengujian berat volume agregat padat.
Penumbukkan yang dilakukan sebanyak 25 kali pada tiap volume agregat yang dimasukkan ke dalam wadah secara bertahap (yakni sepertiga isi wadah setiap pengisiannya). Dengan memadatkan agregat, pori-pori/rongga antar agregat di dalam wadah berkurang. Hal ini menyebabkan agregat yang dapat masuk ke dalam wadah lebih banyak sehingga pada suatu volume wadah yang sama, agregat dalam kondisi padat memiliki berat yang lebih besar. Dengan demikian, berat volume agregat kondisi padat lebih besar dibandingkan agregat kondisi gembur.
Dari hasil pengujian juga didapat berat volume agregat halus relatif lebih besar (1,296 kg/ltr untuk kondisi padat dan 1,169 kg/ltr untuk kondisi gembur) daripada berat volume agregat kasar (1,689 kg/ltr untuk kondisi padat dan 1,613 kg/ltr untuk kondisi gembur). Hal ini terjadi karena sifat material agregat, yaitu bahwa untuk suatu volume yang sama, agregat halus memiliki berat yang lebih besar daripada agregat kasar.

2.1.6   Kesimpulan

Kesimpulan yang didapatkan dari hasil pengujian berat volume agregat adalah sebagai berikut.
a.       Berat volume agregat kasar pada keadaan padat adalah 1,296 kg/ltr.
b.      Berat volume agregat halus pada keadaan padat adalah 1,689 kg/ltr.
c.       Berat volume agregat kasar pada keadaan gembur adalah 1,169 kg/ltr.
d.      Berat volume agregat halus pada keadaan gembur ialah 1,613 kg/ltr.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment